Pemandangan Paling Menyakitkan
Potret kota perlahan makin menyakitkan, jalanan ramai dan macet perkepanjangan menjadi pemandangan paling memuakkan namun ada yang jauh lebih menganggu dari itu. Lampu merah adalah hal yang paling ku benci, bukan karena menunggu yang terlalu lama ataupun suara klakson yang membisingkan, ada diam yang begitu berisik dan mengganggu ku. Mengapa tubuh kecil itu harus berjalan dalam terik? mengapa mereka lupa menggunakan alas kakinya? mengapa membawa tisu-tisu itu? mengapa mereka menampung tangan kepada tiap orang yang mereka lihat? mengapa tubuhnya di warnai seperti itu? mengapa mereka harus berada disana! pemandangan itu sangat melukai hati dan sangat menyakitkan saat melihat harapan pada mata indah itu.
Melihat harapan dari mata yang di paksa menyerah adalah hal paling luar biasa, seolah dihadapkan pada banyak emosi. Ada bahagia yang rasanya tak bisa kau tahan, ada rasa marah yang ingin kau lepas, ada rasa sedih yang membuat mu ingin menangis, dan itu semua menjadi perasaan paling tidak masuk akal yang hanya membuat mu bingung dan hanya mampu tersenyum dengan pandangan nanar dan tubuh gemetar. Ingin rasanya memeluk tubuh ringkih itu satu demi satu, sayangnya bukan itu harapan yang tampak dimatanya. Untuk apa lagi perasaan kasih sayang seperti itu kau bagi dengan mereka sedang mereka lah bentuk cinta paling utuh, mereka orang-orang luar biasa dan kau bukan seseorang yang pantas memberi cinta semurahan itu.
Untuk tiap hari pelik yang mereka lalui dapatkah kau bayangkan betapa bahagianya hidup seperti dirimu saat ini? ini bukan untuk menghiburmu dan membuatmu merasa bangga atas apa yang kau miliki saat ini, karena terlalu kejam rasanya utuk berbahagia sebab hidupmu lebih beruntung dibanding perjalanan dan hari pelik yang telah mereka lalui selama ini. Untuk hidup yang begitu melelahkan dan hari yang begitu panjang tidakkah cukup semua rasa pasrah itu memenuhi hati dan pikiran mereka? mata indah itu tidak seharusnya menjadi sendu, bibir manis itu harusnya sumringah tertawa lepas, tangan kecil itu tidak seharusnya menadah, kaki kaki kecil itu tidak seharusnya menapaki panasnya aspal jalanan, dan kenapa badan mungil itu harus memikul beban hidup seberat itu? sungguh pemandangan paling menyakitkan saat melihat tatapan penuh harapan dari mata indah yang mereka miliki.
Kebahagian telah dibagi sama rata, tentu saja mereka juga sering tertawa lepas dan dari sekian hari tentu ada beberapa hari menyenangkan yang mereka miliki, namun apakah diantara hari hari menyenangkan itu mereka tidak gusar akan hari berikut yang memaksanya untuk terus hidup. Memilih pasrah dalam segala amarah yang tak terpekikkan , beban apa lagi yang harus mereka topang? Sedang bahu-bahunya tak lagi kokoh, kaki-kakiknys tak lagi tegap tegaknya, haruskah mereka berikan hari-hari indahnya? sedang dari sekian hari mereka tak pernah tertidur pulas saat malam menjemput, haruskah mereka menekuk kakinya dan berlutut? sedang lututnya terluka terkikis kerikil jalanan, Haruskah mereka menanggung pedihnya nelangsa, sedang bahagia enggan menyentuh baju lusuh, rumah kumuh, dan sisa sisa makanan mereka. Haruskah?
Kepada tuan dan puan penguasa yang berbahagia, bisakah kau bagi seujung kebahagian yang kau rampas secara terang-terangan itu kepada mereka yang telah ku ceritakan tadi?
Komentar
Posting Komentar