MENJADI DEWASA
Ternyata menjadi dewasa seburuk ini, begitu banyak
hal yang tidak di duga duga malah menjadi hal yang paling menghancurkan ku.
Sebenarnya belum cukup untuk menceritakan pahitnya menjadi dewasa oleh manusia
20an ini , namun sayangnya waktu dan keadaan kerap memaksamu. Hari hari mungkin
berjalan indah dan tentu tidak selalu, tapi jauh sebelum ini aku rindu sosok
itu, manusia periang yang selalu sumringah tanpa orang lain tahu sedalam apa
lukanya. Menjadi dewasa merupakan proses, dan dalam proses itulah semua
perasaan dicampur dengan asal asalan dan kita tahu dengan baik hal itu, namun
lagi lagi hal yang bisa kita lakukan hanya menangis.
Pernah
baca salah satu quotes yang banyak sekali bertebaran “terkadang yang paling melukai mu adalah dirimu sendiri” kurang
lebih begitu bunyinya. Fase dimana bukan lagi masalah cinta-cintaan, masalahah
keluarga, masalah ekonomi, masalah insecurity,
dan lain sebagainya. Yang menjadi masalah terbesarnya hari ini adalah dirimu
sendiri, hari hari sebelumnya lantang mengatakan “aku mencintai diriku sendiri” namun kenyataanya “aku kehilangan diriku sendiri” di buat
bingung dan frustasi oleh diri sendiri dan ingin sembuh oleh diri sendiri
adalah suatu penyembuhan paling menyedihkan yang pernah aku rasakan. Kita kerap
kali terluka akan ekspektasi-ekspektasi yang kita bangun sendiri, dan ternyata
kita adalah korban yang pelaku utamanya adalah diri kita sendiri. Sekedar
menelaah lebih logis lagi, ternyata orang yang memiliki ekspektasi tinggi
terhadap orang lain hal ini di karenakan dia menempatkan dirinya di posisi
orang tersebut, menerka nerka bila dia di posisi orang tersebut maka hal yang
akan dilakukannya adalah demikian. Kecewa atas ekspektasi sendiri? Ini
sepenuhnya benar, karena ternyata menjadi manusia baik tidak semudah itu. kita
sama sekali tidak bisa berharap apapun kepada manusia manapun, karena pada
akhirnya yang patah atas pengharapan tersebut adalah diri kita sendiri. Semakin
kesini ternyata yang perlu kita tatar lebih dalam adalah diri kita sendiri,
bukannya menuntut dan mengutuki orang lain atas ekspektasi keliru yang telah
kita bangun.
Ternyata menjadi dewasa seburuk ini
Mereka
bilang “orang yang senyumnya paling manis
dan tawanya paling keras adalah orang yang menyimpan luka paling dalam” lantas
bagaimana dengan mereka yang takut untuk bahagia? Tidak berani menunjukan
ekspresinya dan memilih menyunggingkan senyum tipis tiap kali hal baik datang
padanya, tertawa keras? Sungguh itu benar benar ketakutan yang sangat bagi
mereka. Karena hidup sudah cukup memberinya pemahaman bahwa bila dia bahagia
hari ini, pasti akan ada rasa sakit yang menikamnya kemudian. Hidup dengan alur
paling menyedihkan. Tidak! Mereka tidak hidup dalam zona nyamannya, mereka
hidup dalam rangkaian panjang hari hari melelahkan yang di milikinya hanya
untuk melewati malam dengan singkat dan bangun untuk hari melelahkan
berikutnya.
Ternyata
begini menjadi dewasa, kesepian dan hilang arah. Terdapat tuntutan-tuntutan
yang menampar diri kita, rasanya sakit sekali. Haruskah dewasa menyapa secepat
ini, rasanya masih ingin menjadi anak kesayangan mereka tanpa beban dan hidup
rasanya menyenangkan sekali waktu itu. namun sayangnya waktu berjalan dengan
begitu kejam, banyak hal terlewatkan dan bahkan hilang tepental jauh dari apa
yang seharusnya tetap berputar pada porosnya. Menjadi dewasa tidak seharusnya
buruk, namun sayangnya dalam sebuah proses selalu banyak kejutan yang membuatmu
sumringah dan ada juga yang membuatmu lengah, patah, kalah, dan hal hal
menyedihkan lainnya.
Semoga dalam proses ini tidak ada di antara kita
yang menyerah.
Komentar
Posting Komentar